Malam minggu kemarin, para muda-mudi menemukan pasangannya, sedangkan aku mendekam dengan buku-buku politik. Sesekali melihat kebahagiaan mereka melalui media sosial, oh indahnya. Terkadang aku merasa sedih, bukan karena malming dan tidak adanya pasangan. Bukan. Melainkan saat kubaca buku ttg politik, dengan harapan kujumpai peristiwa-peristiwa heroik nan menggugah semangat. Tapi, semua kebanyakan hanya penyiksaan, penindasan, perebutan, strategi penguasaan. Manusia saling bertengkar satu sama lain, saling berhadap-hadapan dengan sesama hanya untuk kuasa, uang, perempuan dan legitimasi kebenaran. Ahh sungguh membosankan.

Sesekali aku merenung, apakah beginilah kerja seseorang yg mempelajari masa lalu, ia harus bersiap untuk sedih, sakit, haru, dan tangis. Karena yg dihadapinya adalah bukan kisah ttg dirinya saja. Tapi menyangkut orang lain dan kesedihannya. Ia membaca dan otomatis akan menanggung kesedihan yang luar biasa. Di satu sisi marah dengan pelaku penindasan. Tapi tak bisa berbuat apa apa. Karena itu telah terjadi dan menjadi catatan sejarah. Satu-satunya hal yg bisa diperbuat saat objeknya adalah masa lalu adalah berdamai dengan waktu. Apapun bentuk kisah yg terjadi, kapanpun, dimanapun dan siapapun adalah persoalan ingatan. Ia adalah kenangan yg mempunyai dua sisi yg sama2 tajam dan berbahaya. Jika kita mengabaikanya maka kita buta di masa kini. Jika kita terlalu mengenangnya, maka kita tak punya masa depan. Inilah seni untuk berdamai dengan masa lalu. Apa saja kisah yg lalu, anda harus menerimanya karena itu bagian dari anda. Bagian yg membekas di waktu yg anda pernah lalui. Terima dan hadapi.

Iklan

Kira-kira, apakah seseorang yang selalu memberi semangat tidak butuh semangat?

Apakah seseorang yang selalu membuat tertawa tidak butuh hiburan ?

Apakah seseorang mau berkorban yang pada akhirnya ia harus sendiri menerima untuk tidak melakukan apa apa dan untuk tidak dilakukan apa apa?

Pernahkah kau merasa sepi dan merasa bahwa apa yg kau korbankan selama ini sia sia dan percuma ? Hampa dan kering.

Lalu bagaimana dengan orang2 yg hidup di lingkungan dimana ia sendiri tanpa teman, tanpa keluarga, sepi, kosong dan di keseharian mereka hanya ada pikiran2 mereka saja. Tanpa harapan. Aku tak bisa membayangkan betapa hebat mereka.

Sepi dan sendiri. Aku pernah mengalami ini pada saat menjelang berakhirnya kelas 3 SMA. 

Sepi, kering, hampa, kosong, dan dingin. Aku mencari teman-temanku. Tapi apakah mereka mau melakukannya padaku atas apa yg telah kulakukan pada mereka dahulu ? Ingin aku katakan pada kalian, apakah kalian nyata ? Atau hanya bayang-bayang saja ? Atau apakah selama ini saya berhalusinasi ? Tentang hubungan antar manusia yg tidak pernah selesai. Tentang persaudaraan sedunia yg tak berhenti pada urusan2 individu. Tentang ingatan ingatan yg tidak berhenti pada kalimat “Sudah lupakan masa lalu”

Entahlah. Aku ingin pergi. Sendiri. Barangkali angin akan menyapa pundakku. Atau air di sungai yang membuatku basah. Atau sinar matahari yang mencubit kulitku. Atau hujan yg membuatku lupa air mata, dan selimut yg memelukku hangat. Entahlah

Ketika sesendok cokelat panas terbang sendiri yg dengan rutin menyuapiku, aku di balik jendela memandang keluar dan menyaksikan hujan tiba tiba datang. Gemericik berisiknya seolah dengan antusias menyapaku dan berkata, “Dinar, semangat ya”, “Ayo din semangat”, “Fight din”, “Hajar skripsimu, dinar”, “Dinar, jangan melamun”, “Dinar ayo olahraga”, “Din bangun din”, “Din ayoooo din”, “Dinar lagi apa?”, “Din, Din mau nanya dong”, “Din, kamu tahu gak”, “Din, coba dengerin ini”, “Din, liat metro tv sekarang”, “Din aku mau nanya”, “Din, bagaimana pendapatmu tentang”, “Din, ayoo makan yg banyak”, “Din ayo cepet makannya”, “Din, Din, Din, Din”

Sementara aku tak tahu bagaimana cara meresponnya. Sebab itu hanya hujan dan imajinasiku yg keterlaluan.

Rabu, 11 Oktober 2017. Di dekat jendela, sendiri, malam hari, dan di waktu hujan.

Dinar

Baiklah, saya mencoba membaca dan menuliskan ulang kutipan tersebut dalam pemahaman saya. Tentang “Arti”

Kita tahu bahwa semuanya (benda, makhluk, peristiwa, ide, fenomena, rasa, gagasan, dll) selalu mempunyai arti. Dan semuanya tersebut selalu mempunyai arti yang beragam.

Nah bagaimana bisa dikatakan bahwa “arti” adalah beragam ? Jawaban simpel yg seringkali kita ucapkan adalah “Ya kan orang berbeda-beda dalam menginterpretasikan sesuatu ke dalam arti”. Ya benar. Jawaban tersebut wajar dan sangat alami. Tetapi jawaban tersebut belumlah cukup karena belum menjawab pertanyaan inti. Lalu saya bertanya lagi: Mengapa dapat menjadi beragam ?

Kita bisa saja menjawab itu dengan simpel, “Ya itu karena sudah takdirNYA, ya itu sudah hukum alam, ya itu karena sudah jadi hal yang terjadi, dll”. Saya bukan bermaksud untuk menghilangkan fungsi dan esensi dari jawaban simpel di atas. Namun untuk lebih memikirkan suatu realitas yg ada pada sebuah pertanyaan yang sejatinya juga sangat simpel.

Mari kita sama sama menjawab pertanyaan tersebut lebih dalam. 
Baiklah kita menggunakan sebuah contoh. Tidak hanya ttg kimia, fisika dan biologi saja yang kebenarannya diuji harus dengan percobaan. Tetapi hal ini pun harus juga menggunakan objek (yg jadi contoh/replika) dalam kalimat teori yg kita pegang.

Kita mulai, objeknya adalah: Saat ini saya sedang di ruang tamu, duduk di kursi dan menatap layar smartphone sambil mengetik artikel. 5 meter depan saya ada helm berwarna hijau. Di kamar terdengar adik saya bernyanyi dengan bermain gitar.

Di paragraf tersebut yg saya ambil sebagai objek adalah Benda dan Peristiwa. Yaitu helm dan peristiwa yg sedang berlangsung di kamar. Dan dua hal tersebut mempunyai artinya masing-masing.

Helm dan adik yang bernyanyi di kamar. Apa artinya masing-masing? (Ingat bahwa segala sesuatu mempunyai arti yang beragam). Baiklah, kita bisa menjawab bahwa arti dari helm adalah alat pelindung kepala saat berkendara. Atau ia adalah benda di depan saya yg diam. Atau ia adalah benda yg berhasil mengusir pencuri malam kemarin saat saya benturkan ke kepala si maling. Atau ia adalah asesoris dari mainan. Atau ia adalah sebuah nama. Atau lainnya yg belum saya sebutkan. Mana yang benar ?

Saya percaya bahwa helm mempunyai arti yang beragam. Dan disanalah varietas ragamnya arti dari helm. “Semuanya tergantung pada daya yang menguasainya”.

Sebuah daya yg ada pada helm. Baik saat ia diam malam ini, atau saat berdaya ketika mengenai kepala si maling, atau berdaya pada saat berada di kepala sebagai fungsi pelindung saat berkendara, atau berdaya pada kelengkapan asesoris pada mainan, atau berdaya pada pemahaman sebuah nama. Menurut saya inilah ragam dari arti sebuah helm.

Begitu pula dengan peristiwa adik saya yg sedang bernyanyi. Hal tersebut dapat mempunyai arti yang beragam tergantung pada daya yang ada di dalamnya. Entah karena berdaya pada dirinya yg sedang dalam mood yang bagus, atau berdaya karena waktu, yaitu akan ujian musik besoknya, atau berdaya pada gitarnya yg baru saja di setel, atau berdaya pada keinginan, yaitu saat mendapatkan lagu baru yg sedang hits.

“Berdaya mempunyai konteks” inilah yang membuat “Arti” menjadi beragam.

Lalu di dalam arti selalu ada “Pluralitas, Konstelasi, Suksesi”

Pluralitas sudah diterangkan mengenai ragamnya arti.

Sementara itu, Konstelasi merupakan gabungan arti-arti yang ada:

Ya ini bisa merujuk pada arti dari helm yang serba dan saling berkaitan antara arti satu dengan yg lainnya. Ragam arti dari helm dapat berdaya untuk berhubungan dan saling terkait dengan arti si adik yang sedang bernyanyi. Misalkan: arti helm yang berdaya sebagai pelindung kepala tatkala ia berangkat utk ujian musik esoknya. Atau arti helm dapat berdaya menjadi asesoris saat bermain gitar, atau arti helm dapat berdaya menjadi drum utk membantu iringan gitar.

Suksesi. Saya lebih sepakat mengartikan bahwa Suksesi “arti” dalam hal ini adalah perihal subjek peng-interpretasi arti dari helm ketika membuat arti yang ia buat dalam daya yang ia punya. Misalkan saat ada maling, ia tidak menggunakan helm untuk mengusirnya. Karena ia berdaya pada arti bahwa helm adalah pelindung kepala. Bukan untuk memukul kepala si maling.

Juga tentang koeksistensi. Yaitu bagaimana ragam arti helm tersebut dapat mempersatukan semua hal hal yang ada. Membuat sebuah keadaan bagaimana ragam arti sebuah helm bisa berdampingan dengan arti yang lain. Dan tidak membuat sebuah konflik dan kebencian dalam masyarakat.

Nah, bagaimana arti terkait dengan pluralitas, konstelasi dan suksesi untuk koeksistensi ?

“Semuanya tergantung pada daya yang menguasainya”

Artinya, tanpa kita bentuk semua hal sudah mempunyai daya (Benda, peristiwa, dll). Dan yang membuatnya menjadi berbeda dan beragam adalah subjek yang berkehendak untuk berdaya. Karena saya bukan helm. Saya juga bukan peristiwa adik bernyanyi. Saya juga punya daya. Mempunyai kehendak untuk berdaya.

Itu saja yg bisa saya sampaikan. Mohon jika ada kritikan bisa hubungi  saya. Terima kasih

6/10/2017 – Dinar Fitra Maghiszha 

Arti

Di dalam “Arti” selalu ada Pluralitas, Konstelasi, Suksesi yang rumit sekaligus ko-eksistensi yg membuat interpretasi arti pada dasarnya adalah sebuah seni. Lebih jauh, tidak ada satu peristiwa, fenomena, kata-kata, atau pemikiran yg tidak memiliki beragam arti. “Sesuatu” kadang adalah ini, kadang adalah itu, atau kadang malah lebih rumit untuk ditunjuk sebagai ini dan itu. Semua itu tergantung pada daya yang menguasainya. – A –

Menarik sekali kutipan ini. Aku akan menerangkannya dengan lebih mudah di postingan selanjutnya.

Pada kenyataannya, kenampakan visual pada gambar atau foto tidak memberikan sesuatu pada manusia, selain hanya sebagai media pengingat dan perekam di masa depan. Itu saja. Ia hanyalah ilusi kosong yg telah menjadi budaya. Mau dibilang sebagai seni ? Apa saja bisa jadi seni. Mau dibuat menjadi seni? Sangat bisa sekali. Tetapi satu hal, seni adalah bagian dari peradaban manusia. Yang dibentuk oleh manusia menjadi peradaban. Peradaban terbentuk karena kebudayaan. Kebudayaan lahir karena kebiasaan. Dan kebiasaan muncul karena kesepakatan. Entah individu dgn dirinya sendiri atau individu dgn individu lainnya. Secara sadar maupun tidak.

Dan jurang terdalam dari ilusi itu semua adalah terjebaknya manusia pada norma norma baru, senyum-senyum palsu, tangisan drama, kebahagiaan anonim, ketergantungan akut, dan hal hal yg sejatinya bisa diprediksi akan berada tak jauh jauh dari segi per-indra-an manusia belaka. 

Beradaptasi ?

Beradaptasi adalah hal yg sangat natural. Mau beradaptasi pada aneka rupa kebudayaan, itu pilihan individu. Namun haruslah diingat bahwa individu harusnya tidak lupa bahwa ia adalah pembuat dan penyepakat suatu kebiasaan. Sebagian terkadang lupa atau tidak sadar untuk mengukur kebudayaan yg tumbuh yg mempengaruhi dirinya dengan moralitas yang tajam dan teliti. Sebagian lupa dan tak peduli lalu berlindung pada pasukan-pasukan, kubu-kubu reaksioner, menyala lalu padam lalu menyala lagi yang sanggup menggunakan segala macam hal untuk merasionalkan sesuatu.

Itu saja. Terima kasih.

Dinar, 28 Sept 2017

Kylie Jenner hamil ?

Dalam suatu ruang diskusi, akhirnya saya menjumpai kebosanan bahasan. Yaitu pada titik dimana ada kawan yg ingin diskusi persoalan artis. Dan dalam konteks ini si artis hamil. So, what should i do ? Give’em food ? Take her for walks ? Sound shit.

Walaupun berpendidikan. Ternyata sebagian orang lebih tertarik dengan bahasan bahasan receh. Ya memang bisa dibahas tapi buat apa bahas itu. Baikah, objek yg di bahas adalah publik figur. Tetapi ia hanya hamil dan mengapa kita mengupasnya dengan keingintahuan yg tinggi namun sesungguhnya murah dan sia-sia. Terkecuali ia hamil lalu janin nya dipindahkan pada tabung dan dibesarkan selama 9 bulan di tabung. Dan ini mengawali proses perkembangbiakan manusia diluar rahim. Atau ia hamil di Mars lalu pulang ke negaranya dengan informasi bahwa ada tempat selain bumi yg bisa ditinggali. Atau ia hamil sambil menyelesaikan studinya di college university. It absolutely sounds great.

Tapi hamil biasa, dan itupun melalui pacarnya. Dan mereka belum menikah. Kaget ? 

Itulah sebagian masyarakat. Mereka kaget hanya pada hal hal yg sebenarnya mereka sudah tahu dan sadari. 

Saya dulu menggangap bahwa orang luar negeri lebih open minded drpada orang dalam negeri. Tetapi pada kenyataannya tidak. Pada kasus ini, walau berpendidikan tinggi sebagian Canadian membuat saya bosan. Ya memang mereka menarik di penampakan fisik saja. Tapi ide-ide dan responnya terhadap kehidupan non sense sama sekali.

Saya juga harus introspeksi diri. Pada kasus berita Kylie Jenner ini, saya hanya ingin merespon cukup tahu saja. Sudah. Ini sia-sia apabila diruntut sejarahnya ia dgn pacarnya. Bitch, those fckn shit.

Inilah sebuah tanda bahwa saya harus menjadi diri saya sendiri tetapi tetap tidak menutup diri pada lingkungan saya. Saya hanya bisa memberi pikiran alt, dan membantunya merespon sesuatu. Itu saja. Terima kasih.

24/09/2017 – @dirghiz

Ada kawan yg memantikku untuk diskusi soal cinta. Dan aku tertawa saja. Kukatakan padanya sebelum diskusinya mulai panjang, tentang pilihan definisi yang benar-benar clear dan terang, bahwa cinta itu respon. Jika kau tak respon maka kau tak cinta. Sederhana. Dan saat kau terlalu respon pada cintamu, maka cintamu membosankan dan mudah lenyap. Sebab segala sesuatu yg berlebihan akan cepat hilang. Lalu bagaimana ukuran berlebihan atau tidaknya ? Semua dalam kesepakatan dengan orang yg kau cintai. Lalu bagaimana jika lupa ? Ada seseorang dari dua orang yg saling cinta atau bisa jadi keduanya akan tersesat.

Sebab kesepakatan adalah panduan. 

Dinar, 23/09/2017

Baiklah, mereka padam lalu terang dan padam kembali. Laksana lampu lalu lintas yg monoton dan mudah ditebak kesudahannya. Di lain hal ada yang masih menyala tetapi beberapa saja seperti; Ve, Amari, Sasa, Momo, Andrew. Walau nyalanya tak terang, sering redup, tidak begitu jelas, dan maknanya murah, tetapi mereka konsisten dengan cahaya. Semoga bisa bertahan lama.

Ketegasan mungkin adalah jalan terakhir apabila nasehat tak digubris, dipaksa tidak mau, dan diacuhkan justru semakin berantakan.

Itulah sedikit tentang adek saya yg susah sekali diatur. Itu semua karena ia merasa bahwa hidup adalah absolutisme individu, maka saklek dan ego tinggi dalam responnya, serta impian-impian kosong di angannya, membuatnya kerap kali malas dalam tindakan-tindakan.

Tegas untuk memberi pembiaran dalam porsi tertentu, bukan menelantarkannya sendiri. Tetapi memberinya ruang independen utk membuktikan segala kata yg ia ucap, yang kerap kali disembunyikan dalam tembok kalimat “Ya orang beda-beda sih” dan tenggelam dalam lautan “jangan paksa aku”. Yang bahkan ia tak tahu bahwa di dalam perbedaan, terdapat kesepakatan. Dan waktu yg secara tak sadar memaksa manusia.

Ia juga kalo ditanya kolektifisme dalam keluarga, malah menjadi apatis (yg sesungguhnya timbul karena ketidaksadaran) yg dipicu dengan lingkungan (social media) yg karena palsu visualnya tersebut mengelabuhi jiwa jiwa yg tak sadar.

Biarkan saja, din. Merdekalah dalam individu, tetapi batasilah agar tak menuju absolutisme. Lalu berkolektiflah dengan sesama. Biarkan saja dia membuktikan sesuatu tentang ide. (Yang bahkan ia tidak sepenuhnya sadar atas ide dalam dirinya dan di sekitar yg membentuknya).

Lampu-lampu kamar. Memanjang, terang dan usang tangkainya. Terkadang berbunyi kala mulai menyala atau konslet sesaat. Di lain hal, nyamuk, semut dan kawannya saling bertetangga di sela-sela kabel. Berlalu lalang, entah dengan raut tertawa atau curiga, mereka selalu habiskan sisa-sisa. Entah itu serpihan roti atau darah kemarin. Kemudian saling berseteru, yang tak seorangpun tahu, bahkan-ku. Sementara itu, ada makhluk lain yang selalu termenung di malam hari. Ia kerap kali bertanya dan mempertanyakan. Bukan tentang bagaimana lampu menyala atau nyamuk dan semut bekerja. Tetapi tentang dirinya dan kekuatan-kekuatan yang tak tampak. Tentang waktu dan kemungkinan di dalamnya. Tentang harapan dalam kesendirian. Saat lampu berhenti dan nyamuk bekerja, ia berusaha masuk pada ketidaksadaran. Ia tidak tahu nanti, tapi hanya percaya bahwa akan ada giliran ia nyata kala lampu tak berfungsi, semut yang bermigrasi dan nyamuk yang pingsan karena wewangian.