Menghabiskan waktu untuk menajamkan sebuah kapak sebelum menebang pohon adalah pekerjaan berat dan membosankan. Tetapi itu akan memampukan seseorang utk memotong pohon dalam waktu yg lebih singkat, dan tenaga yg lebih sedikit.

Selamat hari sabtu.

Beberapa kali aku amati di media sosial, banyak orang-orang yang sering membuat kalimat tentang bahagia, seperti;

Bahagia itu ketika….

Bahagia itu adalah saat….

Mari bahagia ….

Jangan lupa bahagia ….

Dlll (yg aku tau baru ini)
Pertanyaanku, apakah kalian benar-benar bahagia ? Saya ulangi lagi. Apakah kalian benar-benar bahagia ?

Tulisan untuk Dzulfikkar dan Ilaria

Selamat pagi ranselseratusliter,

Aku mau menulis untuk dua manusia yang tak pernah aku jumpai langsung, tak pernah berdialog, tak pernah berjabat, tak pernah bertatap langsung, tetapi membantuku memecahkan mitos kebudayaan yang membesarkanku. Yaitu Cinta dan segala hal tentangnya.

Saya belum menikah dan jarang menjalin hubungan, jadi selama ini pengertian cinta dan pernikahan yang banyak di benakku adalah pada pengertian “kata orang”. Sedikit dalam hati kecilku tak sepakat dengan sebagian kata orang, baik itu saudara dan orang tuaku sendiri. Aku punya pandangan sendiri ttg cinta dan pernikahan. Tetapi pikiranku masih sebatas pikiran dan belum berupa tindakan, hanya sebatas ide yang belum menjadi pengalaman. Beruntunglah aku ketika melihat kisah kalian berdua. Ini meyakinkanku bahwa anggapan yg selama ini aku dapatkan tidak semuanya benar. Tidak. Saya katakan lagi. Tidak.

Tadi malam dapat kabar dari teman yg kerja di Radar Batang, tentang dua orang pasangan yang akhirnya menikah. Sebenarnya sudah lama berita ttg kalian sudah aku ikuti dan cari tau sejak pertengahan April lalu di berbagai macam media.

Mas Dzulfikkar ‘Whisnu’ dan Ilaria ‘Lakshmi’ Montebianco

Semenjak pertengahan bulan april, tak tahu kenapa aku intens sekali membaca berita ttg kalian berdua. Di berbagai jenis koran manapun, di sosial media apapun, tanya wartawan peliputnya langsung dan diskusi dengan teman teman di grup.

Walau tak berkunjung langsung ke Batang, bagiku, melihat kisah cinta kalian di media, membuatku terharu sekaligus bangga kalian akhirnya mampu melakukan itu.

Sebelum melihat berita kalian bulan April lalu, saya disibukkan oleh skripsi saya di Undip. Banyak berita berita ttg pernikahan artis mewarnai media sosial. Tetapi sungguh sangat biasa saja dan tak membuatku tertarik sekilas di berita tsb. Ketika selintas kalian muncul di medsos, mendadak spontan aku tutup lembaran map skripsiku utk mencari tahu ttg kalian berdua dan menghadirkan tanya, “Apakah yang selama ini saya pikirkan itu nyata ?”

Ternyata memang benar, kalian sungguh nyata.

Kalian berdua merupakan dua orang yg saling mencintai dan berhasil menang melawan anggapan bahwa cinta itu harus penuh dengan syarat, menikah itu harus penuh dengan benih benih materiil, bibit bebet bobot lah, harus ini, itu, dan aneka bentuk tradisi pra-nikah lainnya.

Sebenarnya banyak orang Indonesia yang menikah dengan orang luar negeri (bule). Banyak pula alasannya. Tetapi aku tak begitu tertarik sampai pada akhirnya melihat kalian.
Kekagumanku pada kalian adalah perjuangan saling cinta lewat social media selama dua tahun lamanya sebelum bertemu, tanpa tatap, tanpa bergandengan tangan, tanpa lain lain yg biasa orang lain lakukan saat pacaran. Lalu perjuangan masing-masing dari kalian untuk memperjuangkan cinta yg murni tanpa embel-embel dan intervensi orang lain, bahkan keluarga.

Mungkin konsep pernikahan kalian masih menggunakan cara lama. Itu tak jadi masalah.Aku sadar karena kalian melakukannya di lingkungan si pria sehingga harus ikut tradisi lingkungan sekitar. Tak jadi masalah.
Bagiku, cinta itu tak berbentuk dan tak bersyarat apapun. Kedua orang saling jatuh cinta dan melegitimasi cintanya dengan menikah. Itu adalah hal yg wajar. Tetapi ketika proses cinta sudah tercemar oleh aneka macam syarat-syarat dari luar orang yg jatuh cinta dan pada saat percintaan maka cinta akan kehilangan kemurniannya.

Memang wajar, berpikir ttg bagaimana mengurus keluarga, beli susu utk anak, dan memberi makan keluarga. Sangat wajar. Tetapi itu bukanlah bagian yg harus di pikirkan dan menjadi aneka syarat di awal percintaan.

Pada saat awal cinta muncul maka berpikir berjuang utk menikah.

Pada saat setelah menikah maka berpikir berjuang utk kehidupan pasca menikah.

Sangat simpel menurut saya. Pada proses perjuangan di setiap tahap itulah cinta sebagai sebuah rasa hadir dan mengiringi dua individu utk tetap bertahan dan melawan aneka anggapan yg perlahan membunuh cinta.

Dzulfikkar dan Ilaria, saya tak tahu agenda kalian pasca menikah. Semoga ketenangan batin selalu menjadi sikap kalian utk melawan segala sesuatu yg dunia inginkan. Lakukanlah yg kalian mau. Bukan yg dunia mau. Hati hati dengan sistem kebendaannya. 

Selamat menempuh hidup baru 🙂

Rasanya sudah sangat lama sekali air tidak menetes di mata, dan semalam, susah sekali membendung rasa haru yang akhirnya keluar.

Terima kasih Tuhan, telah kau ciptakan ragam pikiran manusia di dunia. Salah satu dari mereka kau tunjukkan padaku utk berpikir lebih dalam lagi. Sungguh maha mulia sekali engkau Tuhan yang tak berbentuk. Manusia akan menjadi semakin nyata, saat memakai keberaniannya untuk mengetahui kebesaran-MU

Semarang

Dinar Fitra Maghiszha

Kita butuh uang untuk kuliah.

Kita butuh kuliah untuk kerja.

Kita butuh kerja untuk uang.

Siapa yang buat sistem ini ?

Siapakah kita ini ?

Aku ingin bukan bagian dari kita.

Aku adalah mutlak ide dan tindakanku.

Beberapa hari yang lalu saya diskusi dengan teman saya ttg Hitler dan Eva. Memang tragis nasib mereka, beberapa sumber menyebutkan mereka sengaja bunuh diri agar tidak di tangkap oleh Red Army Soviet. Lantas setelah itu beberapa hari setelahnya bendera merah berkibar di angkasa Berlin. Seorang teman saya bilang bahwa Jerman adalah negara yang kalah perang. Tetapi bagaimanapun juga kejamnya Hitler saat itu, menurutku ia tidak punya banyak pilihan lain. Dan tindakan Hitler hanyalah bentuk aktifitas dan sebagian idenya saja. Menilai Hitler bukan berarti kita menilai Jerman. Menilai Hitler bukan hanya menilai ttg pembunuhan saja. Ia juga sosok lelaki yang punya sopan santun dan berwibawa. Bagaimanapun kisah masa lalu di Jerman, negara ini punya kisah lain yang membuat setiap pengunjungnya jatuh cinta. Inilah yg tak bisa di jelaskan kata-kata.

Aku sungguh sangat tidak suka sekali manusia-manusia yang tidak dapat bahkan menyerah terhadap serangan-serangan feodalis-tradisionalis yang membabi-buta. Menggilas segala ide dan menguasai medan ekspresi kalo kata Rendra. Sedikit apapun perlawanan yg dilakukan lebih baik daripada diam, tunduk, nurut, manut, tanpa pertimbangan dan usulan sama sekali.

Empat Hal

Empat hal dari generasi nenek-kakek yg tanpa kita sadari masih menjadi dasar keilmuan manusia indonesia adalah bahwa kita “hanya” dibentuk agar bisa baca, bisa bicara, bisa nulis dan bisa berhitung.

Hanya itu saja, tanpa di dasari dgn, memahami bacaan, memilah kata dalam bicara, merangkai kata dalam tulisan, dan memperhitungkan.

29 April 2017

D. F. Maghiszha

Sajak Angin Malam

Angin-angin malam, kering dalam sapa dan dingin saat jumpa pertama. Seenaknya sendiri, masuk ke lorong-lorong lalu berbunyi, datang menyapa, lalu hilang entah kemana.

Wahai angin malam, jika kau berkenan, jika lalu-lalangmu dapat dipinjam. Maka, menjelang masa pergantian musim, di jaket lusuh kuambil catatan peluh lalu kubaca untuk menggugat perjumpaan kita.

Sebenarnya, sudah aku rencanakan sejak siang, mengutarakan semua hal yang sudah buat mati rasa dan membusa dalam bicara. Tentang pesan yang selalu lenyap oleh hembusan. Juga tentang lakumu pada narasi-narasi panjang percuma-ku.

Aku tahu, bahwa tanpa harus dengan kata, kau membuatku sadar diri bahwa ada bagian yg harus di lindungi. Tetapi dari sekian banyak kosa-kata ringan, pernahkah kau mendengarkan ?

Sudahlah, tak usah kau perdulikan kalimatku, karena bahasa kita berbeda. Bahkan saat kau masuk dalam tubuhku, semua di sekitar menjerit dan berkata aku sakit.

Tak usah khawatir, sudah kupersiapkan resiko yang datang, entah turun hujan atau senyum sang bulan, malam ini satu saja yang ingin aku tahu darimu.

Pertanyaan yang kusimpan sejak ribuan siang dahulu yang kukatakan pada setiap malam kehidupan.

“Apakah kau merasakanku sebagaimana setiap malam kurasakan hadirmu?”
Semarang, 28 April 2017

D. F. Maghiszha